Oemar Bakri's Blog

Perahu Negeriku Jangan Retak Dindingmu

DIATAS GARIS MENGINTIP DUNIA


Mengintip Dunia yang masih terlelap dari sela-sela jendela kamarnya
Lihat, tak terlalu nyenyak dia
Tubuhnya mulai resah tanda tidur tak lagi purna
Sesekali ia menggeliat manja

Bukan tanpa niat aku mengintipnya pagi ini, sebelum aku mencumbunya habis-habisan siang nanti
Agar cepat tanganku kala menyibak setiap helai bajunya
Harap tak sesat gerakku dalam setiap inci tubuhnya

Kulihat wajah cantik Dunia tak lagi tenang di akhir masa tidurnya
Rencana kerja hari ini sepertinya mendahului dan merasuk ke dalam mimpi pagi
Dahinya yang mulus sesekali mengerut seperti sedang berpikir
Sedangkan sisa pergumulan kemarin belum juga pudar

Di bawah sadar, ujung pakaiannya sedikit tersingkap
birahiku perlahan naik
Kupandangi. Ada perasaan tegang, senang, lucu, bingung bahkan ngeri
Tak sabar rasanya ingin segera siang untuk menjamah tubuh yang terpampang itu
Terus kupandangi ia

Di timur fajar jadi mentari, mentari tumbuh jadi matahari
Dunia menggeliat panjang, matanya terbuka
Memicing menahan silau matahari yang ikut mengintip dari celah yang sama
Perlahan ia mengucek mata dengan punggung tangannya
Bangun,pandangannya berputar ke sekeliling kamar
Mungkin ia merasa ada jika yang memerhatikannya

Takut ketahuan, aku pergi perlahan dengan langkah berjingkat
Setelah aman segera ku ambil langkah seribu, meninggalkan halaman samping rumahnya itu dengan bekas tapak sendalku

Cepat mandi dan tak lupa menghabiskan kopi
cigaret tak lepas dari jepitan jari
semprot sana-sini biar wangi dan Pergi untuk menemui Dunia di luar sana

Aku datang Dunia..!!

Sudah ku tahu titik panas tubuh mu
Tunggu Dunia, kan kugenggam kau hari ini
Semoga kau dan yang lain tak tahu ku telah mengintipmu pagi tadi

Aku pergi, Siap untuk mencumbumu dengan langkah terayun menggebu
Persetan orang-orang lain yang juga jatuh cinta pada kemolekanmu
Mereka tentu harus bersaing denganku yang memujamu

Tunggu saat kita menjadi satu raga duhai belahan jiwa
Terus membara tak padam hingga lelah mendera, sampai waktu lelap tiba.
Sampai kita sadar ada sebuah batas tenaga….

Saat tidurku pun hanya untuk menjalani sebuah bagian dari budaya malam. Bahkan mimpiku pun penuh oleh mu, Dunia.

Esok aku pastikan tak kesiangan untuk mengintipmu lagi dan lagi….Sebelum kembali mencumbumu…, Dunia.

Tangerang, 15 Oktober 2009 (ditulis oleh Suriyanto Bari)

TENGAH MALAM DENGAN SISA HUJAN
Entah harus bagaimana lagi harus kubahasakan cinta kepada malam
Kepada sore telah kujanjikan
Ditengahnya telah aku buktikan
Sementara esok subuh sepertinya masih tanda tanya yang dia ragukan
Dengan kata yang ia guratkan
Dalam puisi yang ia tuliskan

Harus dengan apalagi kulawan dingin hujan
Meski kuyup seluruh badan
Walau gigil mengerutkan tulang
Aku mencoba tersenyum hangat, meski kadang terdiam
Dengan sigeret yang kau sulutkan
Tenggelam di dasar kopi pahit yang kau buatkan

Malam ini hujan
Dingin semakin tajam
Aku tetap memeluknya
Dengan kuyup aku tersenyum, terpejam
(deden rachman blog’s)

KATA CINTA KHALIL GIBRAN
“…pabila cinta memanggilmu… ikutilah dia walau jalannya berliku-liku… Dan, pabila sayapnya merangkummu… pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu…” (Kahlil Gibran)

“…kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang” (Kahlil Gibran)

“Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta… terus hidup… sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan…” (Kahlil Gibran)

“Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan” (Kahlil Gibran)
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada…” (Kahlil Gibran)
“Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini… pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang” (Kahlil Gibran)

“Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai… Dan, apa yang kucintai kini… akan kucintai sampai akhir hidupku, karena cinta ialah semua yang dapat kucapai… dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya” (Kahlil Gibran)

“Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku… sebengis kematian… Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara…, di dalam pikiran malam. Hari ini… aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan… sekecup ciuman” (Kahlil Gibran) (rahmadku.tripod.com)

19 November 2010 - Posted by | Uncategorized |

6 Komentar »

  1. kelingan jaman semono…naliko jek enom. Saiki wes tuwek..

    Komentar oleh LIk PAIJO | 19 November 2010 | Balas

  2. gombal jo jo, kowe mbiyen ngrayu aku, jebule mung lamis.

    Komentar oleh MBOKDE LEGI | 19 November 2010 | Balas

  3. Opo yo ngone to mbokde, asline mbiyen sliramu sing mblenjani janji…

    Komentar oleh LIK PAIJO | 19 November 2010 | Balas

    • la piye lo jo…awakmu tak enteni, pirangane taun ora ono kabare, mulo terpaksa aku nggolek liane.

      Komentar oleh MBOKDE LEGI | 19 November 2010 | Balas

  4. yo wes tak trimak2ne, pancen wes dadi nasibku, nanging tekan sak iki aku tansah kelingan awakmu..

    Komentar oleh LIK PAIJO | 19 November 2010 | Balas

    • jo.. jo.., wes tuwek kok jek panggah ngrayu aku wae..

      Komentar oleh MBOKDE LEGI | 19 November 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: